Kata Kunci :
- Ώ
Posisi terhimpit
- Ώ
Diantara beberapa pilihan
- Ώ Netral
Berbagi cerita itu menurutku suatu hal yang sederhana dan suatu hal yang sangat biasa, namun mahal nilainya. Perlu kepercayaan dan kenyamanan untuk mengawali sebuah cerita. Penting adanya koneksi rasa untuk sekadar saling memahami tanpa menghakimi kisah dibalik cerita, karena cerita tidak melulu tentang light side namun juga dark side. Apapun kisahnya pasti ada hikmahnya. Teruntuk siapapun yang punya cerita, silahkan berbagi kisahnya dengan teman cerita yang tentunya bisa asyik diajak ngobrol, yang namanya cerita tidak harus tentang rahasia hehe...... bisa dimulai dari hal yang sederhana, misalnya tentang mainan masa kecil.
Sebagai
orang yang sering diajak cerita entah siapapun itu mulai dari dengan orang yang
baru kenal sampai orang yang sudah akrab, mulai dari cerita yang receh, ringan,
sampai yang benar-benar serius aku selalu bergumam pada diriku sendiri untuk
tidak menyepelekan cerita siapapun itu dan apapun ceritanya. Karena, menjadi
pendengar yang baik itu menyenangkan walaupun terkadang otak ini begitu lemot
untuk mengerti cerita itu dan menjadikan perbincangan tidak sinkron, jadi hanya
bisa menganggukkan kepala saja sambil tersenyum. Memang perlu kecerdasan
tersendiri sih ya untuk lebih peka :P. Manusiawi sih ya kalau perlu waktu
memahami cerita, kadang-kadang yang diceritakan begitu abstrak dan penuh
teka-teki, jadi perlu menebak-nebak gitu sih supaya ketemu benang merahnya.
Sering
sih berada di posisi jadi orang yang “terhimpit” saat diajak bercerita. Ketika
mendengar cerita si A malah ngomongin si B dan ketika mendengar si B malah
ngomongin si A. Padahal diriku mengenal keduanya. Mungkin A dan B butuh teman
cerita pikirku. Yang terpenting tidak saling mengadu dengan A maupun B, karena
bisa menyebabkan situasi kurang menyenangkan. Cukup tau aja dari sudut pandang
cerita A maupun B. Terkadang merasa bingung harus percaya sama A atau B, harus
berpihak pada A atau B. Pada akhrinya, cerita mereka itu suatu hal yang jujur
hanya berbeda persespsi dan kurang cara mengkomunikasikannya saja. Tugas ku
hanya sebagai pendengar supaya perasaan mereka plong setelah bercerita. Disisi
lain ada hal baik yang harus disyukuri, karena mereka percaya kepadaku. Jadi
orang yang netral dan tidak mudah terprovokasi itu perlu juga.
Waktu
itu semester 1 aku berangkat kuliah menaiki BRT (Bus Rapid Transit). Saat
menunggu di halte dan sambil bolak-balik halaman buku karya Oki Setiana Dewi,
tiba-tiba ada bapak paruh baya gitu dan pakaiannya lusuh nyamperin aku.
Pak
paruh baya : “Kuliah dimana mbak?”
Aku
: “Di UNNES pak.”
Pak
paruh baya : “Oh..... jurusana apa?”
Aku
: “Manajemen.”
Pak
paruh baya : “Nanti kedepannya mau jadi apa?”
Aku
: (tersenyum sambil berpikir) “Rencana mau kerja kantoran aja pak dan kalau
udah ada modal pengen nyambi buka usaha hehe.....”
Pak
paruh baya : “Kamu bisa bahasa inggris enggak?”
Aku
: “tidak pak.” (sambil menggelengkan kepala)
Kemudian bapak itu ngomong sama aku menggunakan bahasa inggris. Duh.... jadi insecure.
Sore
hari, saat menaiki bus Semarang-Solo disebelahku ada mas-mas. Biasanya teman
sebangku seperjalanan gitu pasti menanyakan hal-hal yang standar gitu kan ya.
Seperti, mau kemana mbak gitu lah ya.
Mas
: “Mau kemana mbak?”
Aku
: “Ke Solo mas. Masnya turun dimana?”
Mas
: “Di Ampel mbak. Kuliah apa sekolah?”
Aku
: “Kuliah mas.”
Mas
: “Kuliah dimana? Semester berapa?”
Aku
: “Di UNNES mas, semester 3.”
Mas
: “Jurusan apa?”
Aku
: “Manajemen mas.”
Mas
: “Kamu anak ke berapa?”
Aku
: “Pertama mas.”
Mas
: “Wah... anak pertama ya ya ya. Bebannya berat ya hehe... Kamu jadi anak
pertama harus bisa diandalkan dan harus bla bla bla.............”
Aku
: (Waduh..... dapat ceramah nih selama perjalanan wkwk)
Tiba-tiba
masnya turun di Terminal Tingkir, padahal tadi bilangnya di ampel. Aneh
yaaaa.......
Saat
mendengarkan cerita penting banget untuk tidak menghakimi pengalaman teman
cerita. Saat mendengar cerita teman yang menurutku bukan suatu hal yang baik,
sebisa mungkin untuk tidak menghakimi apalagi sampai merendahkan supaya bisa
menyelami setiap kata yang diucapkan. Misalnya baru setengah cerita sudah
menghakimi dan tiba-tiba memberikan solusi seperti kamu enggak boleh bla bla
bla dan kamu harus bla bla bla. Itu menjadikan teman tidak nyaman dan bahkan
menyesal telah bercerita. Sebaiknya didengarkan saja dan ditanggapi dengan
sikap yang ramah. Padahal kalau dipikir-pikir ya kan setiap orang juga punya
kesalahan termasuk diriku sendiri.






Komentar
Posting Komentar